Ketika kedua mata perlahan terbuka.Aku berharap mata ini terus bahkan selamanya untuk terpejam mata karena ku mengetahui ketika penglihatan ini memandang dunia hanya ada sang malaikat yang sayapnya patah perlahan karena kesedihan mengekang tawa dan senyuman.Ia selalu melihat ku dengan tajam membuat tubuh lemas tak sanggup untuk perpijak melangkah.Dan selalu berusaha merangkul dan memeluk ku untuk menancapkan pedangnya yang tersembunyi dibalik sayap patah itu.Tubuhku dan jiwa ku terbangun dari peraduan yang begitu sederhana ,terlukai tubuhku dengan alas bebatuan dan selimut dinginya sang malam .Tubuh ini semakin membungku dan berkerut oleh luka yang tak pernah lelah mengerogoti seluruh cela dalam tubuhku.
Seorang ibu yang memumutku dari peraduan itu, memberiku nama sadest.Ia menamaiku sadest yang mengambarkan kesedihan karena saat ia menemukan ku dipinggir sebuah kota.Saat itu ia mendengar tangisan bayi yang begitu menyedihkan .Menangis bayi itu di peraduan nya yang keras dan dingin . Lalu ibu itu memutku menolongku sebelum sang malaikat kesedihan merenggut hidupku dengan kesedihan .Ia memakaikan ku baju selembut sutra juga hangat ,sehangat sinar mentari dan menimangku menina bobokan aku dipelukan sang bulan.Menengkan ku dari tangisan akan perjalan kehidupan yang menyedihkan.malam itu ku terlindung dari kematian yang telah mencengkram dan menaburkan benih di tubuhku kesedihan yang mendalam .Ia begitu cantik dan dekapanya menengkan aku dari ketakutan gelapnya sang malam.
Hari ini umurku baru beranjak 2 tahun.ketika itu yang ku pandang hanya tumpahan darah yang mengenang bagai danau yang terbatas oleh tubuh-tubuh kaku manusia ,yang mati hanya karena perselisihan wilayah yang sebenarnya hanya sekecil sebuah desa di pinggir sebuah kota.Mereka yang hidup terus dan terus memainkan pedang dan tamengnya yang sudah mendarah daging di keturunanya untuk saling berperang .Anak cucunya hanya menjadi tumbal akan kebodohan kakek buyuknya yang di adu domba oleh pejajah yang menginginkan tanah kelahiran ku yang penuh sumber akan kekayaan duniawi .Sang pedang hampir menyayatku namun seorang bapak bertameng kayu berpedang tombak rotan. Melindungi dari sang malaikat kesedihan yang mencoba lagi merenggut nyawaku .Terlindung diriku oleh tubunya yang rela tertancap pedang yang tajam berlumran darah. Menangis saat yang dapat aku lakukan walau darah bapak itu memandikan ku saat orang lain membeku karena telah mati oleh tanganya sendiri. Ladang yang dulu tertanami bunga-bunga berubah jadi hamparan kuburan manusia yang mati karena kesedihan dan entah hidup namun tercabik-cabik oleh burung alap-alap .Burung itu memakan dan mencabik-cabik tubuh seorang kakek tua pemilik ladang ,walau kakek itu berteriak meminta tolong kepada para prajurit dan orang lain nya ,tak ada yang menolong .Mereka sudah buta dan tuli oleh rasa amarah dan kedengkian yang telah mendarah daging sejak ia terlahirkan di dunia.
Melihat kakek itu ku hanya melamun karena dirku hanya anak kecil yang tak bisa melangkah bahkan mengayunkan pedang kematian. Esok berganti hari ,sinar berganti gelap ,kehidupan berganti kematian .Hanya itu yang dapat tersirat dari kehidupan ku saat itu. Sang bapak yang menolong ku pun akhirnya mati karena malaikat kesedihan telah lebih dulu merengut tawa,gembira dan mimpi bahkan angannya.
Usiapun kembali berkurang saat detak kehidupan perlahan menghilang karena usia ku semakin bertambah, namun usia itu hanya berupa jam pasir yang lama kelaman akan habis oleh cela sekecil itu. Ku pendegarkan suara-suara perdamaian yang mengalun terus tanpa henti .Tak terhentikan oleh sinar mentari yang mulai tertutupi sang bulan dan anak-anaknya sang bintang. Saat itu ku tahu umurku sudah melangkah 17 tahun ,dimana untuk pertama kalinya diriku merasakan gejolak yang mengebu .Seorang wanita yang mengajariku akan arti perasaan cinta kasih dialah gazelle .Sebuah yang mencerminkan akan dirinya seutuhnya,gazelle yang berarti manis dan pembawa kegembiraan dalam bahasa yunani.Ia begitu sederhana dengan candar sebuah kain hitam pekat ,hanya sedua matanya yang memandang ku begitu dalam membuat ku membeku akan senyumannya yang manis.Semanis buah zaitun yang baru masak pada dahannya.
Detak lonceng sebuah rumah tua yang dulunya menjadi tempat para orang-orang yang menutupi tubuhnya oleh jubah yang gelap. Membangungkan ku pada mimpi buruk akan datangnya sang malaikat kesedihan yang membawa sebuah peti mati kosong .Diseretnya peti itu dengan rantai antara kematian dan kehidupan ,tubuhnya membungkuk karena rantai itu tertancap di kedua punggungya yang membuat sayap-sayapnya patah dan berubah warna oleh kemerahan karena warna putihnya telah tertutupi akan darah kesedihan.
Hari itu orang-orang tertawa gembira melihat sang gazelle terbujur kaku ,ia diam dan terus diam membeku oleh pelukan malaikat kesedihan. Ruhnya terambil begitu saja oleh pedang sang malaikat yang tersembunyi di balik sayapnya. Orang-orang tersebut ,ialah pendamba kematian .Mereka begitu bodoh ,mereka tuli,bisu,dan buta. Tuli tak mendengar bahwa hari esok mereka akan merasakan neraka . Bisu tak bersuara ketika melihat manusia mati di depannya,hanya terdiam dan terdiam. Buta tak melihat bahwa ada aku yang sangat mengkasihi wanita yang mereka tertawakan itu .Gazelle mati karena ia menolong seorang anak kecil yang mencuri sebuah roti untuk ibunya yang sedang kesakitan karena lapar.Ia di lempari oleh orang-orang bodoh itu dengan cacian dan batu-batu bekas reruntuhan rumah yang terbakar oleh perbuatan orang-orang itu pula.
Ketika itu ku merasakan dua rasa yang berbeda . Dimana aku untuk pertama kalinya di ajari oleh gazelle tentang arti sebuah cinta kasih. Namun di lain sisi ku merasakan kesedihan mendalam oleh kematian gazelle yang begitu cepatnya .Ia meninggal bersama perasaan ku yang terpendam direlung hatinya ,walau jasadnya terkubur oleh kesedihan akan kehidupan ku.
Diriku pun terbaring kaku di samping kuburannya yang masih segar akan bauk bunga mawar kesukaanya.Tak bisa terhenti air mata dari cela mataku yang memerah karena terus saja menangis. Sebuah bunga eidelweis ku baringkan di bawah nisannya yang basah tergenang oleh air mataku.Dan sepucung kertas yang ku tulis di samping jasadnya yang terkubur membeku oleh dinginnya tanah saat malam dan kesedirian yang mendalam tanpa teman ,tanpa kawan.
Dear gazelle
Kau buta sedangkan aku bisu dan tuli
Kau buta tak memandang diriku yang slalu memandangmu
Tak meraba diriku yang berusaha memelukmu sebelum dirimu pergi menjauh
Tak merasa diriku yang mengaggumi mu dengan senyum dan untaian syair kehidupan.
Aku bisu tak sanggup menggatakan perasaan ku padahal ku tau cinta ada di hadapan ku.
Aku tuli tak tak mendengar detak demi detak jantungmu yang menggambarkan cintamu

Ku terpanggil oleh cintamu ,dan aku ikuti dia,walu jalanya terjal dan berliku.Dan pabila sayapmu merangkupku,aku pasrah serta menyerah ,walau tersembunyi pedang disela sayapmu itu melukaiku.Dan jika kamu bicara kepadaku ,Percayalah ,walau ucapanmu membuyarkan mimpiku,Bagai angul utara mengobrak-abrik petamanan.
Sang waktu pun berjalan perlahan bersama kesedihanku.Masih terbayang-bayang gezella di relung ku.Namun malaikat kesedihan tlah terlanjur merengkuhku dengan sayapnya .Ia meracuniku oleh kesedihan yang mendalam.Penyakit-penyakit terus saja mengeroti tubuhku bahkan aku pun sudah mulai kebal oleh rasa sakit akan derita yang ia buat.Hanya sajak dan syair yang menemaniku di sisa kehidupanku yang mulai memudar oleh penyakit dan kesedihan.
Sang malaikat datang dengan pedang yang tersembunyi di balik sayapnya dan peti mati di tariknya oleh rantai yang tertancap di kedua punggunya.
Ku berkata pada ia”apa kau sang malaikat kesedihan itu?
“Iya akulah dia”Kata sang malaikat kesedihan.
“Ambilah nyawaku karena ku tlah muak dan bosan oleh kesedihan yang kau bawa dan berikan “Kata ku sambil tangan ini memukul-mukul dadaku.
“Apa kamu ingin melihat gazelle lagi dan menyatakan perasaan itu? Aku ndapat menemukanmu padanya tapi nyawamu adalah taruanya”Sang malaikat berbisik di telinga kananku.
Kataku lantang”aku mau ambilah nyawaku ku sudah tak menginginkannya lagi karena sudah tak ada tujuan lagi aku hidup”
Diambilah pedang dari sayapnya lalu, ditusukanya pedang itu didadaku .Namun tak ku rasa sakit bahkan perih.Ntah kenapa gezella datang dari belakang tubuhku dan memeluku lalu aku dan dia sirna seperti awan yang terbelah