
BUNGA CINTA MUSIM SEMI
Aku berada disebuah taman pada musim semi yang penuh pesona. Bunga-bunga dan rerumputan nan hijau menghiasi taman yang dulunya gersang dan kering hanya ditumbuhi duri. Dibulan april ini segala pesona keindahan surgawi hadir dibumi. Pohon mawar berpakaian sutra putih menebarkan hrum mewangi. Patung yang dulu keindahanya tertutupi lumut dan dahan-dahan tua, sekarag patung itu bagaikan bidadari dan malaikat yang menari. Bulan nisan yang mengilhami para penyair dan membangkitkan lagi khayalan.
Aku berkeliling taman ini, dan tersadar aku jika telah mengelilingnya tiga kali. KUtatap seorang gadis cantik yang sedang termenung dihamparan rerumputan dan bunga. Aku melangkah kecil mendekatinya dan berharap ia tidak menyadari kedatanganku. Ketika mendekatinya perlahan ,tubunya menghembuskan aroma mempesona yang membiusku untuk kaku dan lumpuh . Aku terpukau oleh kata-katanya kepada bunga-bunga itu “Sungguh kehidupan ini tak adil kepadamu engkau begitu cantik dan aromamu menenangkan, tapi kenapa engkau begitu cepat melayu. Apa karena engkau ditumbuhiduri-duri yang menyakitkan? Jika begitu akan kupatahkan setiap duri itu dengan tanganku .”
Aku beranjak dari kekakuanku dan mencegahnya, lalu aku berkata kepadanya, “Jangan kamu patahkan setiap duri itu, karena hanya akan menyakiti drimu dan bunga itu. Duri-duri tajam itu melindunginya, agar tidak ada orang yang memetiknya. Bagiku bunga itu hanya boleh dinikmati indahnya dan keharumanya bukan untuk dipetik dan layu di vas bunga. Memang berat jalan takdirnya begitu cepat melayu, bahkan ia belum sempat melihat indahnya kedipan bintang dan hangatnya bulan dimalam ini.
Ia tersenyum, sambil mendekatiku dan berkata “Engkau adalah lelaki yang sangat baik. Aku selalu menghabiskan musim semi untuk dating ke taman ini dan menemani bunga-bunga. Aku sangat rindu dan ingin bertemu dengan ayahku yang dulu meningggalkanku ditaman ini, anehnya aku melihat ayahku ada dalam dirimu.
Aku merasakan daya tarik yang misterius mendekati kepadaku secara perlahan. Perbincangan kami pun berlanjut di sebuah bangku dekat air mancur taman, ia mulai bercerita tentang persahabatannya dengan ayahnya. Ia menceritakan kenangan masa kecil yang dihabiskannya bersama ayahnya. Ia menuturkan tahun-tahun saat ayahnya mengajak ke taman ini dan meneritakan cerita-cerita akan keindahan bulan nisan yang bersemi.
Aku berkata kepadanya ,“ Ayahmu termasuk dari sebagian kecil yang dating kedunia ini dan meninggalkannya tanpa merugikan orang lain. Ia meninggalkan anak perempuan yang memiliki budi luhur dan kecerdasaan. Dia menatapku sejenak. Dan aku melihat perubahan raut mukanya denagn jelas seakan-akan penuturanku memberinya senyuman lagi. Lalu bibirya sedikit bergetar, tetapi tak ada sepatah kayapun terucap dari bibirnya hingga ia beranjak dari tempat ini.
Kuhalangi ia pergi meninggalkanku dengan memegang tanganya dan bibirku mengucap,” Siapakah kamu? Dan siapa pula namamu .
Ia mengucapkan kalimat terakhirnya,”Aku anak dari bunga-bunga ditaman ini, panggil saja aku violet”. Namanya menggambarkan dirinya begitu cantik dan harum tubunya bagai bunga surgawi.
“Hanya itu yang bisa aku katakan padamu tentang diriku. Dan jangan tanyai aku lebih dari itu”. Sembari berkata demikian, ia menggeserkan pandangan kearah jalan menuju kegelapan di ujungannya.
Aku berteriak sekencang-kencangannya kepadanya ,”Dibulan nisan ini kita dipertemukan dan aku ingin dibulan nisan mendatang dipertemukan lagi kepadamu. Ia melangakh bagai kabut , lenyap begitu seja tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.
Yang kurasakan selanjutnya adalah kata-kata pesona penuh magis dari dirinya yang membawaku kesayap-sayap memori pada hari itu dan tatapan yang asing it uterus mengikutiku tak aku pahami maksudnya sampai aku menyetuh tanganya yang indah , waktu menyentuhnya laksana bunga yang putih seperti tanpa dosa. Dan perasaan yang aneh tiba-tiba menyerbu hatiku.
“Dia bukan sebuah bunga yang ingin kupandang, ataupun suatu keharuman yang ingin kunikmati dialah citra yang tampak walau mata terpejam dan suatu keharuman yang tertinggal disanubari”.
Aku mencarinya keseluruh kota dan taman dibulan ilul (September), tapi yang kudapatkan hanya kekesongan dan ketidak adaan kecuali rasa rindu yang tertumpuk dihati. Dimanakah dia bahkan aku tak dapat melihat bayangannya. Ia telah mengubah malam begitu panjang dan sepi kepadaku, mengisi hari-hari dengan penantian yang tak pasti.
Bulan nisanpun datang, namun apa ini? Tak ada musim semi yang indah yang ada hanya musim dingin yang didera dinginya salju yang berbisik :
“Dia pasti akan datang menjelangku, nanti dimusim semi meloncat-loncatlah dia dihamparan bunga taman ini, yang sekarang membeku diselimuti timbunan salju”.
Aku terus menunggunya ditaman ini dari hari-kehari, dari datangnya mentari sampai tertidurnya bulan dan bintang malam. Diriku telah letih dan lelah akan kedatangannya.” Apakah perjanjian ditaman ini dulu hanya kepalsuan belaka ,dan apakah musim semi tak datang bersamannya”. Akupun sekarang telah tuli oleh nyanyian kematian sang ajal, dan bisu oleh kata-kata manis cinta. Belahan diriku yang lain telah meninggalkanku”
Hari ini telah berajak malam dan bunga-bunga akan segera mengucup kembali. Akupun mendekati hamparan bunga sambil berkata ini akan jadi hari terakhir aku menunggunya. Namun aku melihat sesosok gadis yang tak asing bagiku sedang terduduk dihamparan bunga ,menangis ia sambil berbisik kepada para bunga,” Sekarang aku telah dibutakan oleh tangisan akan ayahku yang meninggalkanku dan aku malu bertemu dengan lelaki baik itu lagi sekarang”.
Aku mendekatinya ,akupun berlari merekuhnya memeluk dan menyetuh tanganya. Sekarang kita tak lagi buta, tuli bahkan bisu. Karena hati kita akan saling mengerti dan menyatu. Hati kita akan berukir nama kita berdua:
Dihatiku berukirkan namamu VIOLET dan hatimu berukirkan namaku VINZA( sebuah gabungan nama ayah ibuku). Musim dinginpun sekarang telah menjadi musim semi yang indah kembali. Dan kisah kita akan dikenang oleh anak cucu kita, lantunan syair kita akan dijadikan pedoman cinta mereka.
Sebuah kisah akan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Namun sekarang aku tuangkan didalam coretan tinta. Bait-baitnya aku rangkai dengan penuh makna dan rahasia. Kisah ini aku persembahakan dan dedikasikan kepadamu ( Tri Puspitasari, 08-03-2011)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar