Kenapa pula kita...
kebisuan datang menimpa kita hingga kita membatu laksana patung yang muram.
Namun kenapa pula kita...
kebisuan ini hanya datang saat kita bertemu dan bertatap muka.
apakah sekarang kehidupan ini merobek-robek kita hingga berjauhan dan suratan takdirpun dapat tertawa telah mencapai kejayaannya sebagai tembok penghalang, sedang kita harus memikul tugas seorang anak adam dan hawa?
apakah karena malam-malam yang kita habiskan bersama dibawah sinar bulan purnama yang menyatukan jiwa kita, penyebab semua kesia-siaan ini?
apakah kita terbang terlalu cepat diantara bintang-bintang sampai sayap-sayap kita lemah dan kita sekarang jatuh kedalam jurang yang berbeda? atau cinta yang terlalu cepat terucap dan terbangun dari tidurnya sehingga ia menjadi marah dan hendak menghukum kita? atau, apakah jiwa-jiwa kita telah mengubah angin malam menjadi badai yang menghancurleburkan kita dan menyapu kita laksana debu pada jurang yang dalam?
kita tak pernah melanggar aturan-aturan. Begitu juga kita tidak pernah merasakan buah-buahan terlarang. Lalu apa yang membuat kita saling membisu?
kita tak pernah melalukan persekongkolan atau melakukan pemberontakan, juga kejahatan lalu kenapa kita dipenjarakan dijurang yang berbeda dan dalam pula.
saat-saat yang menyatukan kita lebih agung ketimbang hitung-hitungan abad. Dan, cahaya yang menyinari kita lebih kuat ketimbang kegelapan malam tanpa bulan dan bintang.
bila prahara memisahkan kita disamudera yang murka ini, ombak bakal mempersatukan kita dipantai yang tenang.
apabila kehidupan ìni membunuh kita, kematian akan menyatukan kita kembali, kebisuan akan berubah tawa karena musim dan waktu. Bahkan, sekalipun ia harus mati berkali-kali ,ia tidak akan pernah lenyap menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar