Ku-telah kehilangan
Tujuan kehidupan, sebagaimana engkau telah tersesat sebelum kita bersama, bertemu diakhir sebuah tujuan yaitu cinta.
Ku-telah kehilangan
Penglihatan mata, sebagaimana engkau telah lenyap bagai kabut malam sebelum sang fajar, datang menyambut hari yang baru.
Ku-telah kehilangan
Pendengaraan telinga, sebagaimana engkau tlah meninggalkan ku sebelum nyanyian kematian, terlantun menidurkan kita bersama selamanya.
Ku-telah kehilangan
Penggecapan mulut, sebagaimana engkau tlah menjauh sebelum kata cinta, bergema di setiap ruang dalam diri kita masing-masing.
Ku-telah kehilangan
Penciuman hidung, sebagaimana engkau telah pergi sebelumku berhasil, menghirup semua penderitaan dan kesedihan dirimu.
Sebuah kehilangan yang berhasil membuatku berkata:
Biarkan aku terbaring dalam lelapku ,karena jiwa ini tak lagi dirasuki cinta, dan biarkan aku istirahat, karena batin ini tak lagi memiliki kebangkitan menghadapi hari esok.
Biarkan ku istirahat di pelukanmu kali ini saja, karena kedua bola mata ini telah teramat lelahnya, biar syair-syair terakhirku berkumandang menyejukkan jiwaku, ceritakanlah masa-masa lalu kita seperti elegì sebuah kehilangan.
Hapuslah air matamu, kasihku dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga membuka kuncupnya menyambut fajar pagi. Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya, sungguh sangat merdu walau itu nyanyian kematian buatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar