Ketika kedua mata perlahan terbuka.Aku berharap mata ini terus bahkan selamanya untuk terpejam mata karena ku mengetahui ketika penglihatan ini memandang dunia hanya ada sang malaikat yang sayapnya patah perlahan karena kesedihan mengekang tawa dan senyuman.Ia selalu melihat ku dengan tajam membuat tubuh lemas tak sanggup untuk perpijak melangkah.Dan selalu berusaha merangkul dan memeluk ku untuk menancapkan pedangnya yang tersembunyi dibalik sayap patah itu.Tubuhku dan jiwa ku terbangun dari peraduan yang begitu sederhana ,terlukai tubuhku dengan alas bebatuan dan selimut dinginya sang malam .Tubuh ini semakin membungku dan berkerut oleh luka yang tak pernah lelah mengerogoti seluruh cela dalam tubuhku.
Seorang ibu yang memumutku dari peraduan itu, memberiku nama sadest.Ia menamaiku sadest yang mengambarkan kesedihan karena saat ia menemukan ku dipinggir sebuah kota.Saat itu ia mendengar tangisan bayi yang begitu menyedihkan .Menangis bayi itu di peraduan nya yang keras dan dingin . Lalu ibu itu memutku menolongku sebelum sang malaikat kesedihan merenggut hidupku dengan kesedihan .Ia memakaikan ku baju selembut sutra juga hangat ,sehangat sinar mentari dan menimangku menina bobokan aku dipelukan sang bulan.Menengkan ku dari tangisan akan perjalan kehidupan yang menyedihkan.malam itu ku terlindung dari kematian yang telah mencengkram dan menaburkan benih di tubuhku kesedihan yang mendalam .Ia begitu cantik dan dekapanya menengkan aku dari ketakutan gelapnya sang malam.
Hari ini umurku baru beranjak 2 tahun.ketika itu yang ku pandang hanya tumpahan darah yang mengenang bagai danau yang terbatas oleh tubuh-tubuh kaku manusia ,yang mati hanya karena perselisihan wilayah yang sebenarnya hanya sekecil sebuah desa di pinggir sebuah kota.Mereka yang hidup terus dan terus memainkan pedang dan tamengnya yang sudah mendarah daging di keturunanya untuk saling berperang .Anak cucunya hanya menjadi tumbal akan kebodohan kakek buyuknya yang di adu domba oleh pejajah yang menginginkan tanah kelahiran ku yang penuh sumber akan kekayaan duniawi .Sang pedang hampir menyayatku namun seorang bapak bertameng kayu berpedang tombak rotan. Melindungi dari sang malaikat kesedihan yang mencoba lagi merenggut nyawaku .Terlindung diriku oleh tubunya yang rela tertancap pedang yang tajam berlumran darah. Menangis saat yang dapat aku lakukan walau darah bapak itu memandikan ku saat orang lain membeku karena telah mati oleh tanganya sendiri. Ladang yang dulu tertanami bunga-bunga berubah jadi hamparan kuburan manusia yang mati karena kesedihan dan entah hidup namun tercabik-cabik oleh burung alap-alap .Burung itu memakan dan mencabik-cabik tubuh seorang kakek tua pemilik ladang ,walau kakek itu berteriak meminta tolong kepada para prajurit dan orang lain nya ,tak ada yang menolong .Mereka sudah buta dan tuli oleh rasa amarah dan kedengkian yang telah mendarah daging sejak ia terlahirkan di dunia.
Melihat kakek itu ku hanya melamun karena dirku hanya anak kecil yang tak bisa melangkah bahkan mengayunkan pedang kematian. Esok berganti hari ,sinar berganti gelap ,kehidupan berganti kematian .Hanya itu yang dapat tersirat dari kehidupan ku saat itu. Sang bapak yang menolong ku pun akhirnya mati karena malaikat kesedihan telah lebih dulu merengut tawa,gembira dan mimpi bahkan angannya.
Usiapun kembali berkurang saat detak kehidupan perlahan menghilang karena usia ku semakin bertambah, namun usia itu hanya berupa jam pasir yang lama kelaman akan habis oleh cela sekecil itu. Ku pendegarkan suara-suara perdamaian yang mengalun terus tanpa henti .Tak terhentikan oleh sinar mentari yang mulai tertutupi sang bulan dan anak-anaknya sang bintang. Saat itu ku tahu umurku sudah melangkah 17 tahun ,dimana untuk pertama kalinya diriku merasakan gejolak yang mengebu .Seorang wanita yang mengajariku akan arti perasaan cinta kasih dialah gazelle .Sebuah yang mencerminkan akan dirinya seutuhnya,gazelle yang berarti manis dan pembawa kegembiraan dalam bahasa yunani.Ia begitu sederhana dengan candar sebuah kain hitam pekat ,hanya sedua matanya yang memandang ku begitu dalam membuat ku membeku akan senyumannya yang manis.Semanis buah zaitun yang baru masak pada dahannya.
Detak lonceng sebuah rumah tua yang dulunya menjadi tempat para orang-orang yang menutupi tubuhnya oleh jubah yang gelap. Membangungkan ku pada mimpi buruk akan datangnya sang malaikat kesedihan yang membawa sebuah peti mati kosong .Diseretnya peti itu dengan rantai antara kematian dan kehidupan ,tubuhnya membungkuk karena rantai itu tertancap di kedua punggungya yang membuat sayap-sayapnya patah dan berubah warna oleh kemerahan karena warna putihnya telah tertutupi akan darah kesedihan.
Hari itu orang-orang tertawa gembira melihat sang gazelle terbujur kaku ,ia diam dan terus diam membeku oleh pelukan malaikat kesedihan. Ruhnya terambil begitu saja oleh pedang sang malaikat yang tersembunyi di balik sayapnya. Orang-orang tersebut ,ialah pendamba kematian .Mereka begitu bodoh ,mereka tuli,bisu,dan buta. Tuli tak mendengar bahwa hari esok mereka akan merasakan neraka . Bisu tak bersuara ketika melihat manusia mati di depannya,hanya terdiam dan terdiam. Buta tak melihat bahwa ada aku yang sangat mengkasihi wanita yang mereka tertawakan itu .Gazelle mati karena ia menolong seorang anak kecil yang mencuri sebuah roti untuk ibunya yang sedang kesakitan karena lapar.Ia di lempari oleh orang-orang bodoh itu dengan cacian dan batu-batu bekas reruntuhan rumah yang terbakar oleh perbuatan orang-orang itu pula.
Ketika itu ku merasakan dua rasa yang berbeda . Dimana aku untuk pertama kalinya di ajari oleh gazelle tentang arti sebuah cinta kasih. Namun di lain sisi ku merasakan kesedihan mendalam oleh kematian gazelle yang begitu cepatnya .Ia meninggal bersama perasaan ku yang terpendam direlung hatinya ,walau jasadnya terkubur oleh kesedihan akan kehidupan ku.
Diriku pun terbaring kaku di samping kuburannya yang masih segar akan bauk bunga mawar kesukaanya.Tak bisa terhenti air mata dari cela mataku yang memerah karena terus saja menangis. Sebuah bunga eidelweis ku baringkan di bawah nisannya yang basah tergenang oleh air mataku.Dan sepucung kertas yang ku tulis di samping jasadnya yang terkubur membeku oleh dinginnya tanah saat malam dan kesedirian yang mendalam tanpa teman ,tanpa kawan.
Dear gazelle
Kau buta sedangkan aku bisu dan tuli
Kau buta tak memandang diriku yang slalu memandangmu
Tak meraba diriku yang berusaha memelukmu sebelum dirimu pergi menjauh
Tak merasa diriku yang mengaggumi mu dengan senyum dan untaian syair kehidupan.
Aku bisu tak sanggup menggatakan perasaan ku padahal ku tau cinta ada di hadapan ku.
Aku tuli tak tak mendengar detak demi detak jantungmu yang menggambarkan cintamu
Ku terpanggil oleh cintamu ,dan aku ikuti dia,walu jalanya terjal dan berliku.Dan pabila sayapmu merangkupku,aku pasrah serta menyerah ,walau tersembunyi pedang disela sayapmu itu melukaiku.Dan jika kamu bicara kepadaku ,Percayalah ,walau ucapanmu membuyarkan mimpiku,Bagai angul utara mengobrak-abrik petamanan.
Sang waktu pun berjalan perlahan bersama kesedihanku.Masih terbayang-bayang gezella di relung ku.Namun malaikat kesedihan tlah terlanjur merengkuhku dengan sayapnya .Ia meracuniku oleh kesedihan yang mendalam.Penyakit-penyakit terus saja mengeroti tubuhku bahkan aku pun sudah mulai kebal oleh rasa sakit akan derita yang ia buat.Hanya sajak dan syair yang menemaniku di sisa kehidupanku yang mulai memudar oleh penyakit dan kesedihan.
Sang malaikat datang dengan pedang yang tersembunyi di balik sayapnya dan peti mati di tariknya oleh rantai yang tertancap di kedua punggunya.
Ku berkata pada ia”apa kau sang malaikat kesedihan itu?
“Iya akulah dia”Kata sang malaikat kesedihan.
“Ambilah nyawaku karena ku tlah muak dan bosan oleh kesedihan yang kau bawa dan berikan “Kata ku sambil tangan ini memukul-mukul dadaku.
“Apa kamu ingin melihat gazelle lagi dan menyatakan perasaan itu? Aku ndapat menemukanmu padanya tapi nyawamu adalah taruanya”Sang malaikat berbisik di telinga kananku.
Kataku lantang”aku mau ambilah nyawaku ku sudah tak menginginkannya lagi karena sudah tak ada tujuan lagi aku hidup”
Diambilah pedang dari sayapnya lalu, ditusukanya pedang itu didadaku .Namun tak ku rasa sakit bahkan perih.Ntah kenapa gezella datang dari belakang tubuhku dan memeluku lalu aku dan dia sirna seperti awan yang terbelah
22 Maret 2011
rakyat dimata para politisi
Kami disini orang-orang lugu yang dieksploitasi ketidakberdayaan ,kami untuk jalan bagi para politisi. Sikap lugu itu kalian santap para politisi. Moral ,etika dan ajaran agama kalian belokkan untuk mengeksploitasi kami. Sikap alim kami pada kalian ,bukan bentuk pengakuan atas status sebagai manusia lemah. Kami hanyalah rakyat dan anak manusia yang taat, tapi bukan sapi perahan kalian. Politisi yang kebaikannya dijadikan sarana untuk mencari dukungan atau pengikut atas keburukan kalian yang ditutupi oleh tameng janji manis. Dihadapan kami ,kalian berubah rupa seperti cermin satu arah yang hanya melihatkan kebaikan tidak keburukannya. Dengan jas yang mewah dan undang-undang yang kalian buat, kalian dapat memaksa dan menindas kami dengan dalih tugas negara. Atas nama demokrasi dan pemberantasan kejahatan, pembataian anak manusia kalian lakukan bahkan halalkan. Hasil dari menjalankan tugas negara untuk kebaikan sesama ,kata kalian ! Adalah hanya untuk diri sendiri-paling jauh untuk meloloskan kalian dari hukum negara tapi esok hukum alam mencabik-cabik seperti serigala ,menghanyutkan seperti danau yang tenang dan memenjarakan dalam terali besi hutan yang lebat. Ini adalah contoh betapa nurani menjadi tak berarti bila berhadapan dengan ambisi jahat ,menjarah,menindas dan menjajah ,kalian para politisi hanya bermuka kepentingan politik ,ekonomi dan budaya.
pecundang cinta
Ini lah aku, sang pecundang cinta. Seorang pencinta yang tak diberi sayap oleh cinta itu sendiri. Dan tak akan bisa terbang ke balik awan untuk melihat taman cinta, dimana jiwa nya tinggal bersemayan bersama kebahagiaan yang menyedihkan itu. Aku tak dipilih oleh cinta sebagai pendampingnya,walau aku mendengar ketika cinta memanggil-manggil. Kisah cinta ini tak pernah tertulis untuk ku. Bahkan seandainya aku berusaha memahami kisah cinta ini dengan seksama hanya ada kekaburan dan linangan air mata. Begitu juga ketika aku mencoba memecahkan makna-makna nya dalam kata dan kertas yang kutemukan hanya debu yang tertiup dan terberai oleh angin. Apa artinya aku hidup bila tak pernah memdengar kata cinta berdengung di telingaku. Dan, apa artinya jiwaku jika ia tak pernah berhasil menguak rahasia mimpi dan perasaan dalam hati. Apa artinya bunga bila daun-daunnya tak pernah disirami dengan tetesan embun sang fajar? Apa pula artinya sungai bila ia tak menemukan jalan untuk sampai di laut ? Wahai cinta aku dapat melihat tanda-tanda penderitaan, keputusasaan, dan kesedihan pada air matanya yang jatuh. Tapi kenapa aku tak dapat memandangnya ketika cinta memandangku dan tak dapat merasakan badai yang berkecamuk ketika ia menyapa ku ,aku hanya seperti patung yang berlumut ,yang tak ubahnya lidahku terbelenggu dengan rasa malu yang membungkam dengan jari-jemari yang misterius. Inilah aku sang pecundang cinta ,tak ada yang ingin mendengar kisah atau keluh-kesah ku.
elegi sebuah kehilangan
Ku-telah kehilangan
Tujuan kehidupan, sebagaimana engkau telah tersesat sebelum kita bersama, bertemu diakhir sebuah tujuan yaitu cinta.
Ku-telah kehilangan
Penglihatan mata, sebagaimana engkau telah lenyap bagai kabut malam sebelum sang fajar, datang menyambut hari yang baru.
Ku-telah kehilangan
Pendengaraan telinga, sebagaimana engkau tlah meninggalkan ku sebelum nyanyian kematian, terlantun menidurkan kita bersama selamanya.
Ku-telah kehilangan
Penggecapan mulut, sebagaimana engkau tlah menjauh sebelum kata cinta, bergema di setiap ruang dalam diri kita masing-masing.
Ku-telah kehilangan
Penciuman hidung, sebagaimana engkau telah pergi sebelumku berhasil, menghirup semua penderitaan dan kesedihan dirimu.
Sebuah kehilangan yang berhasil membuatku berkata:
Biarkan aku terbaring dalam lelapku ,karena jiwa ini tak lagi dirasuki cinta, dan biarkan aku istirahat, karena batin ini tak lagi memiliki kebangkitan menghadapi hari esok.
Biarkan ku istirahat di pelukanmu kali ini saja, karena kedua bola mata ini telah teramat lelahnya, biar syair-syair terakhirku berkumandang menyejukkan jiwaku, ceritakanlah masa-masa lalu kita seperti elegì sebuah kehilangan.
Hapuslah air matamu, kasihku dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga membuka kuncupnya menyambut fajar pagi. Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya, sungguh sangat merdu walau itu nyanyian kematian buatku.
Tujuan kehidupan, sebagaimana engkau telah tersesat sebelum kita bersama, bertemu diakhir sebuah tujuan yaitu cinta.
Ku-telah kehilangan
Penglihatan mata, sebagaimana engkau telah lenyap bagai kabut malam sebelum sang fajar, datang menyambut hari yang baru.
Ku-telah kehilangan
Pendengaraan telinga, sebagaimana engkau tlah meninggalkan ku sebelum nyanyian kematian, terlantun menidurkan kita bersama selamanya.
Ku-telah kehilangan
Penggecapan mulut, sebagaimana engkau tlah menjauh sebelum kata cinta, bergema di setiap ruang dalam diri kita masing-masing.
Ku-telah kehilangan
Penciuman hidung, sebagaimana engkau telah pergi sebelumku berhasil, menghirup semua penderitaan dan kesedihan dirimu.
Sebuah kehilangan yang berhasil membuatku berkata:
Biarkan aku terbaring dalam lelapku ,karena jiwa ini tak lagi dirasuki cinta, dan biarkan aku istirahat, karena batin ini tak lagi memiliki kebangkitan menghadapi hari esok.
Biarkan ku istirahat di pelukanmu kali ini saja, karena kedua bola mata ini telah teramat lelahnya, biar syair-syair terakhirku berkumandang menyejukkan jiwaku, ceritakanlah masa-masa lalu kita seperti elegì sebuah kehilangan.
Hapuslah air matamu, kasihku dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga membuka kuncupnya menyambut fajar pagi. Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya, sungguh sangat merdu walau itu nyanyian kematian buatku.
kenapa pula kita
Kenapa pula kita...
kebisuan datang menimpa kita hingga kita membatu laksana patung yang muram.
Namun kenapa pula kita...
kebisuan ini hanya datang saat kita bertemu dan bertatap muka.
apakah sekarang kehidupan ini merobek-robek kita hingga berjauhan dan suratan takdirpun dapat tertawa telah mencapai kejayaannya sebagai tembok penghalang, sedang kita harus memikul tugas seorang anak adam dan hawa?
apakah karena malam-malam yang kita habiskan bersama dibawah sinar bulan purnama yang menyatukan jiwa kita, penyebab semua kesia-siaan ini?
apakah kita terbang terlalu cepat diantara bintang-bintang sampai sayap-sayap kita lemah dan kita sekarang jatuh kedalam jurang yang berbeda? atau cinta yang terlalu cepat terucap dan terbangun dari tidurnya sehingga ia menjadi marah dan hendak menghukum kita? atau, apakah jiwa-jiwa kita telah mengubah angin malam menjadi badai yang menghancurleburkan kita dan menyapu kita laksana debu pada jurang yang dalam?
kita tak pernah melanggar aturan-aturan. Begitu juga kita tidak pernah merasakan buah-buahan terlarang. Lalu apa yang membuat kita saling membisu?
kita tak pernah melalukan persekongkolan atau melakukan pemberontakan, juga kejahatan lalu kenapa kita dipenjarakan dijurang yang berbeda dan dalam pula.
saat-saat yang menyatukan kita lebih agung ketimbang hitung-hitungan abad. Dan, cahaya yang menyinari kita lebih kuat ketimbang kegelapan malam tanpa bulan dan bintang.
bila prahara memisahkan kita disamudera yang murka ini, ombak bakal mempersatukan kita dipantai yang tenang.
apabila kehidupan ìni membunuh kita, kematian akan menyatukan kita kembali, kebisuan akan berubah tawa karena musim dan waktu. Bahkan, sekalipun ia harus mati berkali-kali ,ia tidak akan pernah lenyap menghilang.
kebisuan datang menimpa kita hingga kita membatu laksana patung yang muram.
Namun kenapa pula kita...
kebisuan ini hanya datang saat kita bertemu dan bertatap muka.
apakah sekarang kehidupan ini merobek-robek kita hingga berjauhan dan suratan takdirpun dapat tertawa telah mencapai kejayaannya sebagai tembok penghalang, sedang kita harus memikul tugas seorang anak adam dan hawa?
apakah karena malam-malam yang kita habiskan bersama dibawah sinar bulan purnama yang menyatukan jiwa kita, penyebab semua kesia-siaan ini?
apakah kita terbang terlalu cepat diantara bintang-bintang sampai sayap-sayap kita lemah dan kita sekarang jatuh kedalam jurang yang berbeda? atau cinta yang terlalu cepat terucap dan terbangun dari tidurnya sehingga ia menjadi marah dan hendak menghukum kita? atau, apakah jiwa-jiwa kita telah mengubah angin malam menjadi badai yang menghancurleburkan kita dan menyapu kita laksana debu pada jurang yang dalam?
kita tak pernah melanggar aturan-aturan. Begitu juga kita tidak pernah merasakan buah-buahan terlarang. Lalu apa yang membuat kita saling membisu?
kita tak pernah melalukan persekongkolan atau melakukan pemberontakan, juga kejahatan lalu kenapa kita dipenjarakan dijurang yang berbeda dan dalam pula.
saat-saat yang menyatukan kita lebih agung ketimbang hitung-hitungan abad. Dan, cahaya yang menyinari kita lebih kuat ketimbang kegelapan malam tanpa bulan dan bintang.
bila prahara memisahkan kita disamudera yang murka ini, ombak bakal mempersatukan kita dipantai yang tenang.
apabila kehidupan ìni membunuh kita, kematian akan menyatukan kita kembali, kebisuan akan berubah tawa karena musim dan waktu. Bahkan, sekalipun ia harus mati berkali-kali ,ia tidak akan pernah lenyap menghilang.
Kenangan dan Hari Bersatu Kembali
Wahai kenangan masa lalu, apabila datang gadis yang menorehkan namanya dihatiku
Yang bertanya kepada sepasang muda-mudi
Tentang si pencinta yang sedang dirundung kesedihan
Maka beritahukan kepadanya
Bahwa malam dan hari-hari saat bersamamu
Telah memadamkan api kesedihan yang sekarang berkobar didalam hatiku
Bahwa air mata mu yang mengalir dipusaraku telah digantikan oleh senyum dan tawa
Bahwa sifat bisu kita saat ini telah menghapuskan jejak-jejak cinta yang telah berlalu
Jika sekarang kamu marah, ketahuilah kemarahan mu itu siapa ? Pilihan atau jalan takdir.
Jika sekarang kamu merintih sedih, ketahuilah sebagaimana kamu memutus ikatan cinta kasih hanya dalam tarikan nafas.
Jika sekarang kamu tertawa, ketahuilah aku disini memandangmu selalu dan menunggu senyum itu.
Sebab,inilah jalan yang engkau pilih dan takdir sebenarnya hanya menuntun.
Andai saja ada jalan kembali bagi segala yang telah berlalu di hadapan kita.
Andai saja ada tempat kembali ketika aku dan kamu tersadar
Andai saja jiwaku memiliki keterjagaan yang panjang, tanpa mengindahkan bunga mimpi dan dapat memperlihatkan senyum, tawa kita dimasa lalu yang tersembunyi, kepada kita saat ini
Andai saja hati kita memiliki hari berbangkit dan dapat mendengarkan senandung yang didendangkan oleh kenangan masa lalu dan gemericik detak jantung saat kita bertatapan.
Sesungguhnya cinta kita bagaikan sebuah bintang dihamparan cakrwala yang cahayanya telah tersamarkan oleh benderangnya cahaya pagi
Dan, saat mentari itu telah bertengger diufuk itulah hari pertemuan dua hati yang kembali menyatu.
Yang bertanya kepada sepasang muda-mudi
Tentang si pencinta yang sedang dirundung kesedihan
Maka beritahukan kepadanya
Bahwa malam dan hari-hari saat bersamamu
Telah memadamkan api kesedihan yang sekarang berkobar didalam hatiku
Bahwa air mata mu yang mengalir dipusaraku telah digantikan oleh senyum dan tawa
Bahwa sifat bisu kita saat ini telah menghapuskan jejak-jejak cinta yang telah berlalu
Jika sekarang kamu marah, ketahuilah kemarahan mu itu siapa ? Pilihan atau jalan takdir.
Jika sekarang kamu merintih sedih, ketahuilah sebagaimana kamu memutus ikatan cinta kasih hanya dalam tarikan nafas.
Jika sekarang kamu tertawa, ketahuilah aku disini memandangmu selalu dan menunggu senyum itu.
Sebab,inilah jalan yang engkau pilih dan takdir sebenarnya hanya menuntun.
Andai saja ada jalan kembali bagi segala yang telah berlalu di hadapan kita.
Andai saja ada tempat kembali ketika aku dan kamu tersadar
Andai saja jiwaku memiliki keterjagaan yang panjang, tanpa mengindahkan bunga mimpi dan dapat memperlihatkan senyum, tawa kita dimasa lalu yang tersembunyi, kepada kita saat ini
Andai saja hati kita memiliki hari berbangkit dan dapat mendengarkan senandung yang didendangkan oleh kenangan masa lalu dan gemericik detak jantung saat kita bertatapan.
Sesungguhnya cinta kita bagaikan sebuah bintang dihamparan cakrwala yang cahayanya telah tersamarkan oleh benderangnya cahaya pagi
Dan, saat mentari itu telah bertengger diufuk itulah hari pertemuan dua hati yang kembali menyatu.
BUNGA CINTA MUSIM SEMI

BUNGA CINTA MUSIM SEMI
Aku berada disebuah taman pada musim semi yang penuh pesona. Bunga-bunga dan rerumputan nan hijau menghiasi taman yang dulunya gersang dan kering hanya ditumbuhi duri. Dibulan april ini segala pesona keindahan surgawi hadir dibumi. Pohon mawar berpakaian sutra putih menebarkan hrum mewangi. Patung yang dulu keindahanya tertutupi lumut dan dahan-dahan tua, sekarag patung itu bagaikan bidadari dan malaikat yang menari. Bulan nisan yang mengilhami para penyair dan membangkitkan lagi khayalan.
Aku berkeliling taman ini, dan tersadar aku jika telah mengelilingnya tiga kali. KUtatap seorang gadis cantik yang sedang termenung dihamparan rerumputan dan bunga. Aku melangkah kecil mendekatinya dan berharap ia tidak menyadari kedatanganku. Ketika mendekatinya perlahan ,tubunya menghembuskan aroma mempesona yang membiusku untuk kaku dan lumpuh . Aku terpukau oleh kata-katanya kepada bunga-bunga itu “Sungguh kehidupan ini tak adil kepadamu engkau begitu cantik dan aromamu menenangkan, tapi kenapa engkau begitu cepat melayu. Apa karena engkau ditumbuhiduri-duri yang menyakitkan? Jika begitu akan kupatahkan setiap duri itu dengan tanganku .”
Aku beranjak dari kekakuanku dan mencegahnya, lalu aku berkata kepadanya, “Jangan kamu patahkan setiap duri itu, karena hanya akan menyakiti drimu dan bunga itu. Duri-duri tajam itu melindunginya, agar tidak ada orang yang memetiknya. Bagiku bunga itu hanya boleh dinikmati indahnya dan keharumanya bukan untuk dipetik dan layu di vas bunga. Memang berat jalan takdirnya begitu cepat melayu, bahkan ia belum sempat melihat indahnya kedipan bintang dan hangatnya bulan dimalam ini.
Ia tersenyum, sambil mendekatiku dan berkata “Engkau adalah lelaki yang sangat baik. Aku selalu menghabiskan musim semi untuk dating ke taman ini dan menemani bunga-bunga. Aku sangat rindu dan ingin bertemu dengan ayahku yang dulu meningggalkanku ditaman ini, anehnya aku melihat ayahku ada dalam dirimu.
Aku merasakan daya tarik yang misterius mendekati kepadaku secara perlahan. Perbincangan kami pun berlanjut di sebuah bangku dekat air mancur taman, ia mulai bercerita tentang persahabatannya dengan ayahnya. Ia menceritakan kenangan masa kecil yang dihabiskannya bersama ayahnya. Ia menuturkan tahun-tahun saat ayahnya mengajak ke taman ini dan meneritakan cerita-cerita akan keindahan bulan nisan yang bersemi.
Aku berkata kepadanya ,“ Ayahmu termasuk dari sebagian kecil yang dating kedunia ini dan meninggalkannya tanpa merugikan orang lain. Ia meninggalkan anak perempuan yang memiliki budi luhur dan kecerdasaan. Dia menatapku sejenak. Dan aku melihat perubahan raut mukanya denagn jelas seakan-akan penuturanku memberinya senyuman lagi. Lalu bibirya sedikit bergetar, tetapi tak ada sepatah kayapun terucap dari bibirnya hingga ia beranjak dari tempat ini.
Kuhalangi ia pergi meninggalkanku dengan memegang tanganya dan bibirku mengucap,” Siapakah kamu? Dan siapa pula namamu .
Ia mengucapkan kalimat terakhirnya,”Aku anak dari bunga-bunga ditaman ini, panggil saja aku violet”. Namanya menggambarkan dirinya begitu cantik dan harum tubunya bagai bunga surgawi.
“Hanya itu yang bisa aku katakan padamu tentang diriku. Dan jangan tanyai aku lebih dari itu”. Sembari berkata demikian, ia menggeserkan pandangan kearah jalan menuju kegelapan di ujungannya.
Aku berteriak sekencang-kencangannya kepadanya ,”Dibulan nisan ini kita dipertemukan dan aku ingin dibulan nisan mendatang dipertemukan lagi kepadamu. Ia melangakh bagai kabut , lenyap begitu seja tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.
Yang kurasakan selanjutnya adalah kata-kata pesona penuh magis dari dirinya yang membawaku kesayap-sayap memori pada hari itu dan tatapan yang asing it uterus mengikutiku tak aku pahami maksudnya sampai aku menyetuh tanganya yang indah , waktu menyentuhnya laksana bunga yang putih seperti tanpa dosa. Dan perasaan yang aneh tiba-tiba menyerbu hatiku.
“Dia bukan sebuah bunga yang ingin kupandang, ataupun suatu keharuman yang ingin kunikmati dialah citra yang tampak walau mata terpejam dan suatu keharuman yang tertinggal disanubari”.
Aku mencarinya keseluruh kota dan taman dibulan ilul (September), tapi yang kudapatkan hanya kekesongan dan ketidak adaan kecuali rasa rindu yang tertumpuk dihati. Dimanakah dia bahkan aku tak dapat melihat bayangannya. Ia telah mengubah malam begitu panjang dan sepi kepadaku, mengisi hari-hari dengan penantian yang tak pasti.
Bulan nisanpun datang, namun apa ini? Tak ada musim semi yang indah yang ada hanya musim dingin yang didera dinginya salju yang berbisik :
“Dia pasti akan datang menjelangku, nanti dimusim semi meloncat-loncatlah dia dihamparan bunga taman ini, yang sekarang membeku diselimuti timbunan salju”.
Aku terus menunggunya ditaman ini dari hari-kehari, dari datangnya mentari sampai tertidurnya bulan dan bintang malam. Diriku telah letih dan lelah akan kedatangannya.” Apakah perjanjian ditaman ini dulu hanya kepalsuan belaka ,dan apakah musim semi tak datang bersamannya”. Akupun sekarang telah tuli oleh nyanyian kematian sang ajal, dan bisu oleh kata-kata manis cinta. Belahan diriku yang lain telah meninggalkanku”
Hari ini telah berajak malam dan bunga-bunga akan segera mengucup kembali. Akupun mendekati hamparan bunga sambil berkata ini akan jadi hari terakhir aku menunggunya. Namun aku melihat sesosok gadis yang tak asing bagiku sedang terduduk dihamparan bunga ,menangis ia sambil berbisik kepada para bunga,” Sekarang aku telah dibutakan oleh tangisan akan ayahku yang meninggalkanku dan aku malu bertemu dengan lelaki baik itu lagi sekarang”.
Aku mendekatinya ,akupun berlari merekuhnya memeluk dan menyetuh tanganya. Sekarang kita tak lagi buta, tuli bahkan bisu. Karena hati kita akan saling mengerti dan menyatu. Hati kita akan berukir nama kita berdua:
Dihatiku berukirkan namamu VIOLET dan hatimu berukirkan namaku VINZA( sebuah gabungan nama ayah ibuku). Musim dinginpun sekarang telah menjadi musim semi yang indah kembali. Dan kisah kita akan dikenang oleh anak cucu kita, lantunan syair kita akan dijadikan pedoman cinta mereka.
Sebuah kisah akan yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata. Namun sekarang aku tuangkan didalam coretan tinta. Bait-baitnya aku rangkai dengan penuh makna dan rahasia. Kisah ini aku persembahakan dan dedikasikan kepadamu ( Tri Puspitasari, 08-03-2011)
Langganan:
Komentar (Atom)